Mantan Kombatan Teroris : Aksi Terorisme Tidaklah Tunggal Bahkan Saling Berkaitan.

Mario Effendy 10 Okt 2020, 22:43:47 WIB Sekitar Kita
Mantan Kombatan Teroris : Aksi Terorisme Tidaklah Tunggal Bahkan Saling Berkaitan.

Jakarta (FKAPHI) – Mantan kombatan teroris paling dicari di dunia, Ali Fauzi Manzi mengajak seluruh rakyat Indonesia agar terus semangat berjuang untuk agama, bangsa dan masyarakat. “Tidak  banyak orang yang seperti saya yang pernah aktif terjun dalam hiruk pikuk konflik sektarian baik global dan lokal dan juga pernah menjadi instruktur pelatih perakit bom dari Jawa Timur ingin berbagi pengalaman dan sama-sama berjuang agar negeri ini damai dan terhindar dari paparan jaringan teroris yang membahayakan,” pungkasnya saat menjadi nara sumber dalam kegiatan e-learning wawasan kebangsaan episode 6 yang menghadirkan kisah nyata : Ali Fauzi Mantan Kombatan Teroris yang Kembali Pada 4 Pilar Kebangsaan, yang dihadiri pengurus wilayah Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia di berbagai provinsi Sabtu siang, (10/10/2020).

Tapi, sambung dia, karena cinta negeri inilah, perjuangan untuk memberikan perlindungan kepada generasi muda melalui masuk satu kampus ke kampus lainnya, untuk memberikan pemahaman tentang bahaya organisasi teroris tak akan pernah surut. Menurut kakak dari pelaku teror Bom Bali Ali Gufron ini masih banyak masyarakat yang meyakini bahwa terjadinya sejumlah teror di negeri ini karena hasil dari operasi intelijen. 

Sebab, tidak yakin orang desa seperti Ali Imron mampu merakit bom sebesar itu yang meledak di Bali. “Tapi setelah dijelaskan secara rinci dengan gamblang oleh mas Ali Imron di pengadilan melalui rekonstruksi yang sangat lengkap dan itu diliput oleh media nasional dan internasional maka terpecahkanlah pertanyaan-pertanyaan itu,” terangnya.

Baca Lainnya :

Oleh sebab itu, sambung dia, perlu ada pelurusan informasi bahwa hal itu tidak benar. Sebab, sesungguhnya terjadinya sejumlah teror ini merupakan hasil dari gerakan kelompok-kelompok teroris ini. Dan aksi terorisme tidaklah tunggal bahkan saling berkaitan. Oleh karena itu, cara penanganannya juga tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal. Harus banyak aspek, perspektif dan metodologi. Ibarat sebuah penyakit, terorisme ini termasuk penyakit yang sudah mengalami komplikasi, butuh dokter spesialis dan juga obat yang tepat.

“Dalam hal ini, saya Ali Fauzi Manzi bukanlah seorang dokter spesialis namun saya pernah mengalami penyakit seperti itu bertahun-tahun, sekarang saya bisa bangkit sembuh dan menyembuhkan,” imbuh pria yang sedang menempuh pendidikan doktor di Universitas Muhammadiyah Malang ini kembali. (rio) 




Tuliskan komentar facebook

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook

Lihat semua komentar

Tuliskan komentar