Jika Hari Arafah Jatuh 17 Juli, Persiapan Penyelenggaraan Haji Hanya 6 Bulan

Redaktur 17 Des 2020, 08:18:12 WIB Haji dan Umrah
Jika Hari Arafah Jatuh 17 Juli, Persiapan Penyelenggaraan Haji Hanya 6 Bulan

Banten (Bisnis Syariah) – Pelaksana Tugas (Plt) Kasubdit Advokasi Haji, Direktorat Bina Haji, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, H. Affan Rangkuti berharap, seluruh pegiat penyelenggaraan haji terus melakukan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) ke tengah-tengah masyarakat.

“Kami berharap gerakan KIE ini terus dilakukan ke tengah-tengah masyarakat, meski belum ada kepastian apakah penyelenggaraan haji di tahun 2021 bisa dilaksanakan atau tidak,” ucapnya saat menjadi nara sumber dalam kegiatan webinar Komunikasi Informasi Edukasi Virtual Advokasi Haji yang dihadiri peserta dari unsur jemaah haji, KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Umrah), pemerintah daerah, ormas Islam, penyuluh KUA (Kantor Urusan Agama), tokoh masyarakat, alumni petugas haji dan ormas Islam di Kota Tangerang Selatan, Banten, dan disiarkan secara langsung melalui facebook, Jum’at malam, (04/12/2020).

Lanjut dia, dalam penyelenggaraan haji ke depan, akan ada dua peran penting. “Kita tidak membahas skenario batal. Kita bahasa skenario pertama 100 persen berangkat. Dan skenario kedua 50 persen berangkat. Oleh sebab itu ada 2 peran penting yang diharapkan menjadi pemain utama dalam penyelenggaraan ibadah haji nanti. Dan ini sangat mendasar. Peran pertama ada di dalam aspek bimbingan ibadah dan manasik.

Baca Lainnya :

Peran ini sangat dibutuhkan sekali di tengah-tengah terjadinya stagnasi ibadah haji tahun ini. “Ini akan menjadi satu sandungan bagi pemerintah, apabila mutu dan kualitas pengetahuan ibadah jemaah haji yang berangkat ini, tidak dapat tercapai, karena ada masa stagnan ini. Atau ada masa jeda ini. Kalau kita berhitung 2021 itu hari Arafah jatuh di tanggal 19 Juli, kalau tidak salah di tanggal itu, mohon nanti dikoreksi kalau ada yang salah, maka jika dihitung dari situ, sekarang ini awal Desember, maka kita memiliki lebih kurang waktu 6 bulan untuk melakukan gebrakan-gebrakan alih pengetahuan jemaah haji, sebagai objek penyelenggaraan ibadah haji itu sendiri,” tambahnya. Dan, sambung dia, suka tidak suka, ini harus dilakukan.

Lalu, yang kedua adalah kesehatan. “Saya harus melakukan otokritik kepada kesehatan selain juga melakukan otokritik kepada Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Misalnya, sampai detik ini dakwah kesehatan haji yang kita bangun bersama Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan belum muncul,” tandasnya.

Oleh sebab itu, kata Affan, sinergitas antara Dinas Kesehatan dengan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kota harus dibangun lebih kuat dan lebih awal dengan menghilangkan ego sektoral masing-masing. Misalnya si A harus lebih awal si B harus lebih awal. “Hendaknya kita harus satu bahwa melakukan ini semata-mata untuk umat, untuk bangsa dan negara. Dan yang paling penting, dengan melakukan ini, kita bisa terhindar dari ghibah dan fitnah, yang bisa membuat kita bisa masuk dalam pusaran ini,” pesannya kembali. (rio) 




Tuliskan komentar facebook

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook